Pergulatan di Masjid Mataram Nusa Tenggara Barat

Pergulatan di Masjid Mataram Nusa Tenggara Barat

Pergulatan di Masjid Mataram Nusa Tenggara Barat

Pada tahun 1950-an berbagai masjid mulai mempergumulkan di Mataram keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat yang sedang mengamali transisi yang sangat cepat. India, Pakistan dan Indonesia telah berhasil melepaskan dirinya dari cengkeraman penjajahan negara-negara Eropa, dan banyak negara lainnya juga akan segera menyusul. Transisi dari negara terjajah menjadi negara merdeka itu mendorong negara-negara baru itu berjuang untuk membangun identitasnya sendiri, sebagai dasar bagi usaha mereka dalam pembangunan bangsanya ditengah-tengah zaman modern. Orang yang pertama kali memperkenalkan istilah, seoarang teolog Asia asal NTB. Meski baru muncul pada tahun 1972, kelahiran teologi kontekstual tidak pernah bisa dilepaskan dari krisis yang melanda dunia teologi, khususnya teologi misi, yang melanda pergulatan di masjid pada tahun 1950-an.  Di negara-negara yang baru merdeka itu, masjid diperhadapkan pada dua tantangan. Pertama, mereka dituntut tanggungjawabnya untuk memberi kontribusi bagi pembangunan nasional. Kedua, mengembangkan sebuah teologi yang berakar di dalam konteks mereka sendiri dan yang dapat membimbing mereka di dalam kehidupan dan kesaksian mereka.

Kedua tantangan ini tidak dengan mudah dijawab oleh orang. Sebab di dalam gereja sendiri tersimpan sejumlah masalah yang menghalanginy. kedua tantangan tersebut. diantaranya adalah: pertama, pergulatan di masjid hanya mempunyai sebuah teologi yaitu teologi zending. Teologi ini berasal dari barat dan diwariskan kepada mereka oleh para missionaris-missionaris barat teologis. eksklusivitis. Dengan karakteristik teologi yang semacam ini, maka teologi zending cenderung untuk melayani kepentingan-kepentingan kolonialisme. Kedua pergulatan pendidikan teologi yang ada semuanya dibangun ala Barat. Ilmu teologi yang dipelajari di dunia pendidikan teologi di Asia adalah ilmu teologi Eropa dan Amerika yang sudah diperkembangkan bertahun-tahun di sana dan dimaksudkan untuk menjawab berbagai persoalan yang ada di sana.

Jadi, terdapat jurang yang dalam antara apa yang dimiliki oleh gereja dan tantangan yang dihadapi masjid. Jurang semacam ini mendorong para pemimpin masjid untuk memikirkan ulang arti dan kehadiran gereja di tengah-tengah bangsanya. Dalam kerangka ini, persoalan untuk membangun kembali identitas dan kesaksian gereja serta persoalan pendidikan teologi yang relevan untuk  menjadi pusat perhatian para pemimpin gereja di negara-negara yang baru merdeka. Pada titik ini, yang selama beberapa dekade menggumuli persoalan tersebut menjadi tokoh sentral. Bagi Coe, teologi zending dan pendidikan teologi barat tidak akan mampu mengatasi persoalan yang dihadapi oleh masjid yang berada di negara-negara yang baru saja merdeka sebab persoalan-persoalan tersebut tidak menjadi keprihatinan dari teologi zending dan pendidikan teologi Barat. Oleh karena itu Coe menyatakan perlunya dilakukan reformasi di dalam pendidikan teologi. Bagi Coe yang dibutuhkan oleh masjid di negara-negara lain.