Buku Ilmu Fiqih di Masjid Pontianak Kalimantan Barat

Buku Ilmu Fiqih di Masjid Pontianak Kalimantan Barat

Buku Ilmu Fiqih di Masjid Pontianak Kalimantan Barat

Salah satu cabang dari ilmu Ushul Fiqih yang dibahas di dalam makalah ini adalah tentang Istihsan, yaitu ketika seorang Mujtahid lebih cenderung dan lebih memilih hukum tertentu dan meninggalkan hukum yang lain disebabkan satu hal yang dalam pandangannya lebih menguatkan hukum kedua dari hukum pertama. Dengan demikian persoalan yang belum ada nasnya dalam al-Qur’an dan Hadist, para ulama mencoba memberikan solusi atau di istinbatkan hukumnya dengan berbagi metode, walaupun metode dalam berijtihad berbeda satu sama lain, ada yang memakai metode misalnya Istihsan tetapi ulama lain menolaknya masjid.

Dalam makalah yang ada akan dibahas tentang persoalan metode berijtihad oleh para ulama, namun dalam makalah ini pembahasan cukup difokuskan pada persoalan berijtihad dengan Istihsan. buku ilmu fiqih di masjid pontianak kalimantan barat. Dari definisi istihsan dan penjelasan terhadap banyak macamnya jelaslah bahwasannya pada hakekatnya istihsan bukan sumber hukum yang berdiri sendiri, karena sesungguhnya hukum istihsan bentuk yang pertama dari kedua bentuknya berdalilkan qiyas yang tersembunyi yang mengalahkan terhadap qiyas yang jelas, karena adanya beberapa faktor yang memenangkannya yang membuat tenang hati si Mujtahid masjid. Itulah segi Istihsan.Sedangkan bentuk yang kedua dari istihsan ialah bahwa dalilnya adalah maslahat, yang menuntut pengecualian kasuistis dari hukum kulli (umum), dan juga yang disebut dengan segi istihsan. Adapun kehujjahan istihsan menurut para ulama’. Abu Zahrah berpendapat bahwa Abu Hanifah banyak sekali menggunakan istihsan. Begitu pula dalam keterangan yang ditulis dalam beberapa kitab Ushul yang menyebutkan bahwa buku ilmu fiqih di masjid pontianak kalimantan barat.Hanafiyah mengakui adanya istihsan.Bahkan, dalam beberapa kitab fiqihnya banyak sekali terdapat permasalahan yang menyangkut istihsan. Asy-Syatibi berkata bahwa sesungguhnya istihsan itu dianggap dalil yang kuat dalam hukum sebagaimana pendapat Imam Maliki dan Imam Abu Hanifah.Begitupula menurut Abu Zahrah, bahwa Imam Malik sering berfatwa dengan menggunakan istihsan.

Dalam beberapa kitab Ushul disebutkan bahwa golongan Hanabilah mengakui adanya istihsan, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al Amudi dan Ibnu Hazib. Akan tetapi, Al-Jalal Al-Mahalli dalam kitab Syarh Al-Jam’ Al-Jawami’mengatakan bahwa istihsan itu diakui oleh Abu Hanifah, namun ulama’ yang lain mengingkarinya termasuk di dalamnya golongan Hanabilah. Golongan Al Syafi’i secara masyhur tidak mengakui buku ilmu fiqih di masjid pontianak kalimantan barat. adanya istihsan, dan mereka betul-betul menjauhi untuk menggunakan dalam istinbat hukum dan tidak menggunakannya sebagai dalil.Bahkan, Imam Syafi’i berkata “Barang siapa yang menggunakan istihsan berarti ia telah membuat syari’at.”Beliau juga berkata, “Segala urusan itu telah diatur oleh Allah SWT., setidaknya ada yang menyerupainya sehingga dibolehkan menggunakan qiyas.Namun tidak boleh menggunakan istihsan.”